Saat Dunia Menjauhiku




Teman, masih ada cerita yang ingin aku ceritakan disini rupanya. Tapi maaf, mungkin bukan kabar gembira yang aku tulis, bukan juga kabar buruk. Kurasa. 

Apa kamu pernah merasa diabaikan? Berapa kali? Merasa dianggap tidak penting dan bukan siapa-siapa, pernah? Oh iya-iya, aku hanya sekedar bertanya. Maaf kalau mengingatkan, anggap saja aku tidak pernah bertanya demikian.


Ketika kamu berusaha menjadi yang terbaik untuk semua orang yang ada disekelilingmu, bagaimana perasaanmu? Senang bukan? Aku pernah merasakan. Semua yang kulakukan terasa ringan, karena aku mengetahui kelak akan ada orang yang bahagia atas hasil usaha kita. Aku tahu itu. Tapi bagaimana jika posisimu berada pada titik dimana setiap yang kamu lakukan tidak ada artinya sama sekali bagi orang-orang disekitarmu? Lalu kamu dianggap tidak bisa dipercaya, dan dibiarkan begitu saja. Apa kamu ingin berontak?
Tapi kalau berontak, malah membuatmu semakin tidak bisa dipercaya. Bingung bukan?

 Lalu kamu berusaha kembali menunjukan usaha terbaikmu untuk orang-orang disekeliling, dan hasilnya tetap sama, tidak berarti dimata mereka. Apa masih ada niat untuk berontak? Atau berhenti dan kembali pada diri sendiri yang selalu merasa tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan orang lain? Aku yakin ini menyakitkan untuk seseorang yang perasa. Tenang, kamu tidak sendirian.
Disaat-saat seperti itu, disaat dunia menjauhiku, ketika tidak ada lagi yang membutuhkanku, aku hanya berkaca pada cermin yang tidak tahu apa-apa. Terkadang muncul pertanyaanku, “seburuk itukah aku?”. Kalaulah semua ini disambungkan dengan masa lalu, jujur ini terlalu menyakitkan. 


Komentar

Posting Komentar

Postingan Populer