Kisah Si Pena dan Si Kertas

Ketika sebuah pena tak henti menggoreskan tintanya di atas kertas, sesekali mereka membicarakan tuannya yang sedang komat-kamit ketika menuliskan isi hatinya di dalam sebuah buku harian.

"Kertas, andai kamu tahu betapa sesaknya aku ketika tangan pemilik kita menggenggamku dengan erat. andai dia tahu bahasaku, mungkin aku akan meminta istirahat dan terlepas sejenak dari tangannya itu." kata si Pena.



kertas putih yang mulai terisi penuh oleh tinta menjawab "bukankah sudah takdirmu setiap hari berada dalam genggaman tangan pemilik kita? nikmati saja. Aku pun merasakan sakit ketika ujungmu yang runcing itu menggores-gores bagian tubuhku".

"Maaf Kertas, tapi itu bukan mauku." jawab si Pena.

Dengan suara lirih si Kertas menjawab "Tak usah meminta maaf. Seharusnya aku yang meminta maaf padamu. Kau ada setelah aku, kalau saja aku tidak ada, mungkin kau tidak akan merasakan sesak itu. Maafkan atas keberadaanku yang membuatmu terpaksa harus merasakan sakit itu. Maaf..".


-elfa-
 

Komentar

Postingan Populer