Sabtu, 03 November 2018

Rancang Rencana

Mungkin di sini bukan hanya aku yang punya pertanyaan "Akan kemana setelah ini?". Masa-masa quarter life crisis memang cukup membingungkan, apalagi untuk seorang perempuan menurutku. Bukan hanya tentang urusan setelah lulus (kuliah) mau kemana, tapi juga tentang setelah berkeluarga nanti mau bagaimana (jadi wanita karir atau jadi ibu rumah tangga). Kita tidak tahu apa yang akan terjadi, mungkin ada hal diluar rencana menghampiri sebelum kita lulus, entah itu jodoh yang datang tak terduga atau bahkan ajal yang menjemput tiba-tiba. Wallahu alaam. 

Mungkin terdengar cliché, tapi menurutku ini normal untuk seorang overthinker.

Banyak persimpangan jalan yang harus dilalui dan kita sering kali terdistraksi oleh hal-hal kecil, oleh sudut pandang orang lain, dan hal lainnya yang bikin pusing kalau disebutkan satu persatu.

Merancang rencana bukan berarti tidak menerima takdir Tuhan bukan? Dan menerima takdir Tuhan bukan berarti kita tidak berusaha memperbaiki kehidupan, kan?

Bicara tentang "rencana" dari sudut pandang perempuan, dari artikel yang pernah aku baca ada seorang tokoh besar menyatakan bahwa jika ingin sukses pada karir dan rumah tangga seorang perempuan harus memiliki sikap visioner yang besar. Hmm, kira-kira seberapa visionerkah kamu? 


Adalah suatu hal yang baik ketika banyak pencapaian yang diraih oleh seorang perempuan, namun hal tersebut sebaiknya tidak lantas menyalahi kodrat kita sebagai manusia yang dititipi rahim oleh Allah. Dan bukan sesuatu hal yang buruk pula ketika seorang perempuan lebih banyak menghabiskan waktunya berdiam diri di rumah. Karena bisa jadi justru mereka inilah yang lebih teguh dalam menjaga diri dan lebih pandai dalam hal bermuhasabah. Sesederhana itu jika kita melihatnya dari sisi positif, tak usah diambil pusing.  Okay?

Yang terpenting bagi seorang perempuan yang sedang mempersiapkan diri untuk masa depannya yaitu; giat menabung ilmu. Tentunya ilmu yang bermanfaat untuk dunia dan akhirat, untuk diri sendiri dan orang lain. Mengapa? Karena perempuan yang kemudian menjadi seorang ibu, ia akan mewariskan kecerdasannya pada sang anak. Ibu adalah madrasah pertama untuk anak-anaknya, bukankah begitu? Bahkan Bung Karno pun berkata "Kalau perempuan itu baik, maka jayalah negara. Tetapi kalau perempuan itu buruk, maka runtuhlah negara"

Oleh karena itu, menabung ilmu ini harus banget masuk kedalam list rancang rencana kita. Setidaknya itu akan berguna sebagai pegangan juga. 

Semoga setelah ini, perjalanan kita menjadi semakin lebih baik dan berujung pada yang terbaik pula. Semoga pertanyaan-pertanyaan tentang rencana hidup terjawab satu persatu dengan pasti. Sadar diri bahwa kita bukan lagi anak kecil yang polos, kita ini punya mimpi yang harus dituju, ada masa depan yang harus diperjuangkan. Dan juga sadar bahwa kita hanya mampu berencana, karena Allah-lah yang menentukan.


Jangan lupa selalu berpesan kepada diri sendiri untuk bisa menjadi seseorang yang bernilai. Bukan hanya dimata manusia, tetapi juga dihadapan Tuhan. Prioritaskan point yang ke dua ini ya. Dengan begitu keberadaan kita di dunia terasa lebih ada harganya, setidaknya kita tidak hanya menjadi seonggok daging yang punya nama dan hanya numpang lewat saja di dunia. Ikhlaslah dalam setiap kebaikan. Jangan ditujukan untuk mendapat pujian manusia, namun niatkanlah bahwa kita hidup dengan cara yang baik adalah untuk ibadah & untuk kebaikan kita di kehidupan yang kekal nanti. Karena memang itulah tujuan manusia diciptakan, yaitu untuk beribadah  kepada Allah Yang Maha Esa.


Satu yang pasti
Senyuman dan nasehat dari siapapun akan selalu menempati ruang terdalam di hati aku. Sebagai saksi bahwa perjalanan hidup ini diiringi oleh hal-hal positif yang telah mereka bagi, meskipun mungkin mereka sendiri tidak menyadarinya. Terimakasih ya..

Semoga tulisan ini selalu menjadi pengingat untuk aku pribadi. Mudah-mudahan kita semua diberikan kemudahan dan ketenangan dalam menjalani setiap cerita kehidupan yang fana ini. 


La Tahla, La Tahzan, La Takhaf :)

Selamat merancang rencana.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar